

Tubuh manusia membutuhkan asupan air yang cukup agar dapat beraktivitas secara optimal. Ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi, kondisi yang dikenal sebagai dehidrasi dapat terjadi. Hal ini dapat mengganggu metabolisme tubuh dan memicu berbagai keluhan fisik seperti pusing, mual, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, kenali ciri-ciri dehidrasi sejak dini serta cara penanganannya!
Dehidrasi adalah kondisi medis ketika terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran cairan dalam tubuh, di mana volume air yang keluar melebihi jumlah air yang masuk. Pada dasarnya, cairan tubuh hilang secara alami setiap hari melalui proses pembuangan urine, penguapan keringat, pernapasan, dan feses. Kehilangan cairan tubuh ini akan lebih mudah terjadi jika dipadukan dengan beberapa faktor seperti:
Jika tidak segera diatasi, dehidrasi dapat mengganggu volume darah, menurunkan suplai oksigen ke seluruh tubuh, serta mengurangi performa fisik dan mental secara signifikan.[4]
Tubuh manusia memiliki cara untuk memberikan sinyal peringatan ketika terjadi kekurangan cairan. Berikut adalah 7 ciri-ciri dehidrasi yang perlu diwaspadai:
Rasa haus sebenarnya adalah cara otak memberi tahu bahwa tubuh mulai kekurangan cairan. Proses ini diatur oleh bagian otak yang disebut hipotalamus. Saat cairan tubuh berkurang, darah akan menjadi kental dan pekat, kondisi yang dikenal sebagai peningkatan osmolalitas plasma. Efeknya bisa membuat tubuh cepat lelah, pusing, sulit konsentrasi, hingga otot gampang kram karena otak dan tubuh kekurangan pasokan oksigen yang lancar. Otak yang mendeteksi perubahan ini akan langsung memicu rasa haus sebagai sinyal mendesak agar segera minum dan mengembalikan kekentalan darah ke batas normal.[3]
Saat tubuh mulai kekurangan cairan, produksi air liur secara otomatis akan berkurang. Akibatnya, area dalam mulut, lidah, hingga bibir akan terasa kering, kesat, atau lengket. Kondisi ini merupakan salah satu sinyal paling awal dari tubuh bahwa dehidrasi ringan sedang terjadi.[3]
Warna air seni atau urine yang pekat merupakan salah satu ciri-ciri dehidrasi yang paling mudah dikenali. Saat cairan tubuh terpenuhi, urine biasanya berwarna jernih atau kuning muda yang segar. Sebaliknya, saat kekurangan air, ginjal akan bekerja ekstra untuk 'mencadangkan' cairan dengan cara menyaring urine menjadi lebih pekat. Hasilnya, warna urine akan berubah menjadi kuning tua, pekat, atau bahkan kecokelatan.[4]
Saat dehidrasi, jumlah volume cairan dalam darah akan menurun dan membuat darah menjadi lebih kental. Kondisi ini memaksa jantung untuk bekerja ekstra keras memompa darah ke seluruh tubuh. Karena aliran darah melambat, pasokan oksigen dan nutrisi yang dialirkan ke otot pun berkurang. Efeknya, tubuh akan terasa cepat lelah, lesu, dan lemas meskipun tidak sedang melakukan aktivitas fisik yang berat.[2]
Kekurangan cairan dapat menyebabkan jaringan otak mengalami pengerutan atau penyusutan sementara. Saat air di dalam sel otak berkurang, ukurannya sedikit mengecil dan tertarik menjauhi dinding tengkorak. Hal inilah yang memicu rasa nyeri atau sakit kepala. Di samping itu, dehidrasi juga bisa membuat tekanan darah menurun mendadak, yang menyebabkan sensasi pusing atau ‘keliyengan’ saat berdiri.[3]
Air mata berfungsi sebagai pelumas alami agar bola mata tetap lembap dan nyaman. Saat tubuh mengalami dehidrasi, produksi air mata ikut menurun sehingga mata menjadi terasa gatal, perih, kering, atau memerah. Jika dehidrasi makin berlanjut, area di sekitar kelopak mata bahkan bisa terlihat sedikit cekung karena lapisan cairan di bawah jaringan kulit ikut menyusut.[3]
Studi menunjukkan bahwa dehidrasi ringan dengan penurunan cairan sebesar 1% hingga 2% dari berat badan sudah cukup untuk mengganggu kinerja otak. Efek yang dirasakan adalah melambatnya daya tangkap, pikiran terasa linglung atau 'kabut otak' (brain fog), mudah lupa, serta sulit fokus saat menyelesaikan pekerjaan maupun saat berolahraga.[1]
Mengatasi dehidrasi sebenarnya tidak sulit asalkan dilakukan dengan langkah yang tepat. Berikut beberapa cara praktis yang bisa dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh:
Mengetahui berbagai ciri-ciri dehidrasi merupakan langkah awal yang penting agar tubuh terhindar dari dampak buruk kekurangan cairan. Selain peka terhadap sinyal dari tubuh, mengonsumsi air minum secara konsisten adalah kunci utama untuk terhindar dari dehidrasi.
Guna mendukung proses hidrasi yang cepat di tengah padatnya aktivitas, Pristine 8.6+ hadir sebagai pilihan air mineral ber-pH tinggi berkualitas dari sumber air pegunungan. Pristine 8.6+ diproses secara higienis menggunakan teknologi nomor satu Jepang. Proses canggih ini bekerja memecah molekul air lebih kecil untuk bantu hidrasi tubuh dengan cepat.
Sesuai dengan pesan utamanya, "Canggih Airnya, Beda Manfaatnya", mengonsumsi Pristine 8.6+ setiap hari menjadi langkah praktis agar tubuh selalu terhidrasi dengan baik, bugar, dan siap menjalani hari dengan maksimal!
Referensi:
[1] Armstrong, L. E., Ganio, M. S., Casa, D. J., Lee, E. C., McDermott, B. P., Klau, J. F., Jimenez, L., Le Bellego, L., Chevillotte, E., & Lieberman, H. R. (2012). Mild dehydration affects mood in healthy young women. The Journal of Nutrition, 142(2), 382–388. https://doi.org/10.3945/jn.111.142000
[2] Pross, N., Demazières, A., Girard, N., Barnouin, R., Metzger, D., Klein, A., Perrier, E., & Guelinckx, I. (2014). Effects of changes in water intake on mood of high and low drinkers. PLoS ONE, 9(4), Article e94754. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0094754
[3] McKinley, M. J., & Johnson, A. K. (2004). The physiological regulation of thirst and fluid intake. News in Physiological Sciences, 19(1), 1–6. https://doi.org/10.1152/nips.01470.2003
[4] Riebl, S. K., & Davy, B. M. (2013). The hydration equation: Update on water balance and cognitive performance. ACSM's Health & Fitness Journal, 17(6), 21–28. https://doi.org/10.1249/FIT.0b013e3182a9570f